Kisah Rina
June 28, 2006 by eve-d-angela
Hari ini ayah Rina pulang dari kantor dengan bawa mainan untuk Rina ,
betapa senangnya Rina karena jarang sekali dia mendapat mainan baru, mainan yang
ada selama ini hanyalah mainan lama dari kakaknya, Sinta yang sudah bosan dengan
mainannya dan lebih berhak untuk mendapatkan mainan baru. Saat itu Rina berumur
6 tahun dan dia sudah harus mengerti bahwa mereka bukanlah keluarga berada yang
dapat setiap saat memiliki boneka baru untuk menemani mereka bermain. Rina sangat
mencintai orangtua nya sehingga dia berusaha tidak menyusahkan mereka bahkan
untuk sekedar merengek minta balon atau permen dari tukang yang lewat.
Bunda Rina sudah terlampau letih mengurus mereka sepanjang hari,
sang bapak sudah terlalu lelah mencari nafkah di kantornya. Apakah Rina tega untuk
menggelendoti bunda yang saat itu baru melahirkan adik perempuan mereka dan juga
masih harus memasak buat mereka, membereskan rumah, memandikan , tidak …. Rina
hanya mampu membantu sang Bunda dengan tidak menambah bebannya. Sang kakak sudah sibuk
dengan sekolah dan PR nya yang sudah banyak karena dia sekarang dah kelas 4 SD,
Sinta butuh bunda untuk membimbingnya dalam belajar. sang adik masih 4 tahun dan
masih butuh perhatian bunda karena kebandelan untuk anak seusianya, dan sang
Bayi tentu saja lebih membutuhkan bunda karena dia butuh Asi bunda.
Rina tidak pernah mengeluh dan sampai saat inipun dia tidak
pernah merasa bahwa dia telah berkorban, karena baginya memang begitulah
seharusnya, itulah kewajibannya sebagai seorang anak. Rina terlampau mencintai
bunda …
Tapi hari itu …. Maafkan Rina karena keegoisannya , maafkan
dia karena ternyata dia masih anak2 yang masih sangat membutuhkan sebuah boneka
sehingga dia melupakan segala kewajibannya sebagai seorang anak yang baik.
Boneka yang
diberi bapak dipegang erat dan dicium dengan sangat bangga dan dalam hati rina
berjanji akan menjaga boneka ini dengan baik. Rina duduk sambil terus memandangi
boneka itu ketika secara tiba-tiba sang adik merebutnya dan mengatakan bahwa itu
miliknya. Rina marah ,…. Rina sedih,…. Rina kecewa,….
Rina rebut kembali
boneka itu namun betapa terkejutnya dia ketika tiba2 sang bapak membentak dan
mengambil kembali boneka itu untuk diserahkan kepada adik. Rina tidak dapat
berkata apa2, dia benar2 kehilangan arah. Rina sudah tidak bisa menangis lagi.
Saat itu juga dia langkahkan kakinya pergi, Rina berjalan cepat meninggalkan
mereka, keluar rumah, …. Dia berjalan
semakin cepat dengan pikiran melayang namun tanpa tetesan air mata, semakin
cepat dia berjalan ,…. Kini dia berlari…. Berlari terus sampai akhirnya dia sadar
betapa pedihnya kakinya. Rina berhenti dan menepi, dia tatap kakinya dan baru
dia sadari bahwa dia tidak pakai apa2 untuk melindungi kakinya. Rina lelah …. Rasa
pedih dikaki tidak sepedih hatinya … Rina diam …. Rina menunggu …. Dimana aku
??? Dia tatap sekitarnya, oh ternyata tidak begitu jauh dia pergi.
Dikejauhan
terlihat ada orang berlari menuju arahnya, Rina tidak ingin berlari , dia hanya
terdiam, membisu dan menunggu. Sang bapak tlah datang menghampiri dan membawa Rina
pulang… Rina tetap bisu dan tak berkata apa2, Rina tahu dia salah dan dia pasrah
akan apa yang terjadi.
Apa yang terjadi
kemudian tidak akan diingat karena Rina tahu bahwa itu semua tetap kesalahannya.
Tidak semestinya dia cemburu, tidak semestinya dia marah, tidak semestinya dia
kabur hanya karena sebuah mainan.
Rina tidak pernah menyalahkan bapaknya , dia telah memaafkan atas segalanya. Rina merasa bahwa dia lah yang salah karena telah bersikap bodoh dan konyol.
Tidak ada maksud
apapun Rina menuliskan kenangan ini, kecuali untuk mengenangnya dan membagi rasa
yang ada dalam dirinya.
Rina tetap dan
akan selalu mencintai kedua orangtuanya, adik2nya dan keluarganya, semua memiliki
arti yang penting bagi hidupnya, dan kenangan tadi tidak mampu untuk menghapus
kasihnya pada mereka.
(the story adapted from a diary of a little child)