My mistake to my princess
June 20, 2006 by eve-d-angela
My mistake to my princess
Malam ini serasa
aku mendapatkan tamparan keras pada perasaanku. Menjelang tidur aku sempatkan
menengok kamar putri. Aku lihat dia sedang melamun dengan pandangan kosong
menatap langit-langit kamar. Kudekati dia dan kupeluk sambil kutanya ada apa
pada dirinya. Dia tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya , aku tahu ada
yang sesuatu yang salah pada dirinya. Kuletakkan badanku disampingnya serasa
memeluknya.
“Bunda tidur
disamping kaka ya..” bisikku pada telinganya seraya menciumi wajah putihnya. Dia
tetap tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya.
“Ada apa kaka,
ada sesuatu yang kaka pikirkan ya, cerita dong ke bunda, kalau bunda salah biar
bunda perbaiki dan biar bunda mengerti perasaan kaka” ucapku sambil memikirkan
apa yang mungkin menjadi pikirannya. Putri tetap tidak berkata apapun , tapi
dia merekatkan pelukanku, aku tahu dia tidak bisa dipaksa untuk bercerita, aku
akan mengikuti permainannya. Aku eratkan pelukanku sambil tetap kuciumi
rambutnya dan kusenandungkan lagu kesukaannya sejak kecil.
“Kasih ibu,
kepada putri, tak terhingga sepanjang masa, hanya …”
“bunda….” Belum selesai aku menyanyikan lagunya dia mulai
meregangkan pelukanku dan membalik kearahku.
“ya sayang…” ucapku lembut sambil tetap menunggu apa yang
akan dia ucapkan
“Bunda cape ya
kerja”
“Tidak sayang.
Bunda sehat kok” ucapku sambil mencoba menerka arah pembicaraan kami
“Kaka kasihan
sama bunda, pergi subuh2, pulang udah malam, pasti bunda cape, kaka suka lihat
bunda minta diurut karena masuk angin ya bun”
“Tidak sayang,
bunda Cuma pegel sedikit aja kok, tapi bunda sehat”
“Bunda kerja
untuk kaka dan adik2 ya… buat beli susu, bayar sekolah kaka, bayar kumon
kaka, sama buat beli jajanan kaka”
“kaka janji
bunda, kaka akan jaga adik2, kaka ga akan ngerepotin bunda lagi, kaka akan Bantu
bunda dirumah , kaka akan pintar disekolah, kalau kaka pintar dirumah bunda
pasti senang kan…” Ucapnya sambil mengelus pipiku yang sudah berlumur air mata
haru. Aku benar benar tidak menyangka bahwa putri telah sedewasa ini untuk
mengerti posisinya sebagai seorang kaka.
“ Kaka, adik adik
adalah anak2 bunda yang bunda sayang sepenuh hati bunda”
“iya ya bunda,
kan sayangnya bunda panjaaaaaannnng banget, tapi kalo sayangnya kaka kebunda
lebih panjang loh bunda…”
“Iya sayang,
apapun yang bunda lakukan hanya untuk anak2 bunda, bukan berarti kaka ga boleh
ngerepotin bunda, bunda akan sangat senang kalau kaka cerita terus tentang apa
yang kaka jalanin setiap hari, biar bunda ga ada dirumah siang hari, tapi kaka
kan bisa telpon bunda dan cerita kalau kaka mau sesuatu. Insya Allah bunda akan
penuhi sepanjang bunda bisa” ucapku
“Bunda ga akan
cape kalau kaka minta sesuatu”
“Kaka percaya
Allah sayang sama kita khan, Allah telah melimpahkan kekuatan bagi setiap bunda
untuk dapat membesarkan anak2nya agar menjadi anak yang sholeh dan berguna. Membahagiakan
orang yang kita sayangi tidak akan menjadikan kita lelah tapi malah senang
karena orang tersebut juga akan senang khan.”
“Kaka mau minta
bunda melakukan apa sayang …” lanjutku
“ehmmm kaka
pengen bunda yang nyiapin pakaian kaka sebelum sekolah dan nyiapin makanan
untuk kaka, kaka ga mau teteh yang nyiapin.”
Pernyataan ini
cukup menyedihkan hatiku. Aku sadar sudah lama sekali aku tidak melakukan
kegiatan itu lagi , semua itu karena aku harus mengejar waktu agar tidak tertinggal kendaraan menuju kantor.
“Tapi kalau bunda
ga sempat ya ga papa kok, teteh nyiapin kok” selanya sebelum aku sempat
menjawab permintaannya.
“Maafin bunda ya sayang, bunda janji mulai besok semua keperluan kaka akan
bunda siapin, bunda janji sayang, bunda ga cape, bunda sempat kok.” Ucapku
sambil memikirkan apa yang sebetulnya terjadi dirumah selama aku di kantor
hingga kaka ingin aku melakukan kegiatan untuk dirinya olehku.
“terimakasih
bunda, kaka senang sekali. Tapi kalo bunda sibuk ga apa apa bun.. kaka ga mau
bunda sakit ..”
“Tidak sayang…
insya Allah bunda akan penuhin permintaan kaka, nah sekarang kaka tidur , dan
sebelumnya kita berdoa dulu yuk.
“I love you
bunda… “ ucapnya sambil tersenyum dan berdoa untuk bersiap-siap tidur.
Kunyanyikan lagi
lagu kesayangannya sambil mengelus punggungnya, ritual ini selalu aku lakukan
untuk menidurkannya sejak dia bayi.
Setelah kudengar
dengkuran halusnya, aku buka lemari pakaiannya dan aku mulai siapkan pakaian
untuk esok sekolahnya, baju putih tangan pendek dan rok biru muda. Ini dia
bajunya dan roknya mana ya…. Aku coba mencari lagi kedalam lemari, namun tetap
tidak aku temukan. Oh ya aku ingat, hari ini rok itu juga dipakai , jadi
seharusnya sudah dicuci dan mungkin ada ditempat setrika. Aku berjalan menuju
tempat setrika mencoba mencari rok biru kaka, tetap tidak aku temukan, kucoba
ke tempat jemuran, tetap tidak ada, wah jangan2 belum dicuci, bagaimana sih teteh,
kok tidak menjalankan tugasnya. Aku buka tempat pakaian kotor dan kucoba
cari rok tersebut. Nah ini dia, ada
didasar bak dan … Ya Allah kotor sekali dan …. Astaghfirullah … inikah yang
menyebabkan kaka tidak mau diurus teteh lagi, ku angkat rok nya tinggi2 untuk
memperjelas penglihatanku. Kaitan pada roknya sudah lepas dan hanya dikaitkan dengan
peniti yang dipasang secara asal, beberapa helai benang menjulur dari bawah rok
dan rok nya kotor sekali. Tak terasa air mataku jatuh melihat kesalahan yang
telah kulakukan.
Betapa sibuknya
kah aku hingga aku tidak memperhatikan kondisi pakaian anakku, betapa lelahkah
aku hingga tidak sempat untuk sekedar menjahitkan pakaian anakku. Mungkin kaka
diledek di sekolahnya karena pakaiannya, mungkin kaka tidak mau menceritakan
ini karena tidak mau merepotkan aku.
Aku terduduk di
ruang cuci sambil memeluk pakaian sekolah kaka, air mataku tak dapat kutahan,
penyesalanku teramat dalam. Ya Allah ampuni aku, betapa berdosanya aku.
Aku berjanji
tidak akan melakukan hal ini lagi. Aku berjanji akan lebih meluangkan waktuku
untuk anak2ku, lebih memperhatikan kondisi mereka. Aku tidak dapat menyalahkan
siapapun kecuali diriku. Aku ibunya yang berkewajiban mengurusnya dan bukan
orang lain .
Setelah pakaian
kaka selesai aku cuci, aku kembali ke kamar kaka dan kembali memeluknya. Kutatap
wajah sucinya, seraya air mataku tetap mengalir karena rasa bersalahku yang
telah menyia yiakan segalanya. Malam ini aku ingin tetap menatapnya seraya
mengucapkan syukur kepada Allah yang telah menciptakan makhluk indah ini . Dia
telah dewasa, dia telah berperan sebagai seorang kaka yang tahu akan tanggung
jawabnya.
Tidak kaka, bunda
tidak akan pernah lelah mengurusmu, membesarkan dan melihatmu tumbuh adalah
keajaiban bagi bunda dan itu tidak ternilai dengan apapun. Tumbuhlah menjadi
dirimu sendiri dan semoga Allah tetap melindungi kita dan tetap memberikan
jalan bagi bunda untuk selalu mengingat
atas kesalahan bunda ini.

mbak evaaaaaaaaaaaaaaa………..
aduh aku baca ceritanya ikutan nangis neh…. gak berhenti2 airmatanya….. subhanallah ya…. kadang kita gak tau Allah memberikan hikmah pada kita melewati jalan yang tidak pernah kita duga…. hiks..hiks…..
jangan pernah berhenti nulis di blog ini yah… soalnya sangat berharga bagi orang2 yang membacanya…. dan buat pengalaman pio juga hihihihi
thx bunda