Oh My Zidane…..
July 9, 2006 by eve-d-angela
Senin, 10-07-2006
Nasib tragis bagi Prancis dan Zidane…. gue sediiiihhhhhhhhhhhh banget karena Zizou harus mengakhiri kariernya dengan cerita yang kurang baik. Gue sih ga nyalahin Zidane karena kekalahan Prancis, tapi sedih aja dia ga bisa nahan emosi.
Smalam Final Piala dunia antara Prancis dan Itali. Sebetulnya sih gue ngefans ama kedua tim ini, dan harus gue akui permainan Italy saat semi final lawan Jerman adalah permainan terbaiknya. Tapi gue lebih mihak Prancis karena permainannya stabil, sejak babak penyisihan sampai akhir dia selalu main bagus, dan kalau mau jujur semalam permainan memang milik Prancis, dan banyak sekali tendangan gawang yang dilontarkan Henry, zidane dkk ke gawangnya Itali, cuma memang semua ada yang ngatur, jadi mungkin memang belum waktunya bagi Prancis buat menang di tahun ini.
Cerita sedih yang terjadi saat pertandingan adalah yang menyangkut Zidane… Ini gue copy berita dari detik.com tentang kejadian yg zizou….
Senin, 10/07/2006 06:27 WIB
Zizou, Oh, Zizou….
Andi Abdullah Sururi - detikSport

AFP/Daniel Garcia
Berlin - Kenapa
harus berakhir seperti ini, Zizou? Kenapa harus kalah oleh emosi
sendiri? Sungguh disayangkan melihat pemain sebesar Zinedine Zidane
menyudahi karirnya dengan tragis.
Rasanya tak pernah terbayangkan oleh gibol manapun jika seorang Zidane
harus mengalami nasib seperti yang terjadi Olympic Stadium, Berlin,
Senin (10/7/2006) dinihari WIB, di saat ia sebenarnya punya kesempatan
untuk menutup karirnya yang gemerlapan dengan paripurna.
Zidane, pemain terbaik dunia tiga kali dan pemain termahal sejak 2001,
yang oleh warga Prancis sudah dianggap "dewa" sampai-sampai membuat iri
pemain legendaris lain Michel Platini, melakoni partai terakhirnya
sebagai seorang pecundang.
Memimpin timnas Prancis dengan ban kapten melingkar di tangannya, di
final Piala Dunia 2006 melawan Italia, pria berkepala botak berusia 34
tahun itu harus meninggalkan lapangan sebagai pemain terusir gara-gara
tak mampu mengontrol emosinya.
Di menit 110 ia diganjar kartu merah oleh Horacio Elizondo setelah
wasit asal Argentina itu mendapat laporan dari asistennya di pinggir
lapangan. Sang hakim garis, sebagaimana jutaan pasang mata yang
menyaksikan pertandingan tersebut lewat siaran televisi, melihat Zizou
yang dikenal sebagai pribadi yang pemalu tiba-tiba berubah menjadi
"banteng".
Diduga keras karena mendapat ejekan dari Marco Materazzi — Zizou fasih
berbahasa Italia karena pernah lama berkarir di Juventus — ia bukannya
terus menjauh melainkan berbalik dan menanduk dada bek klub Inter Milan
itu.
Materazzi, yang memang dikenal "usil" dan gemar memprovokasi lawan,
roboh seketika. Para pemain Italia meradang, rekan-rekan setim Zidane
mencoba membantu kaptennya itu. Zidane termangu, sadar bahwa dirinya
dalam bahaya.
Namun nasi telah menjadi bubur, Zidane telah melakukan kebodohan yang
barangkali terbesar dalam karirnya. Provokasi Materazzi boleh saja
sangat menyakiti hatinya, tapi Zidane tidak sepatutnya bereaksi seperti
itu. Zidane, yang bermimpi pensiun sebagai juara dunia dua kali, malah
menjadi "pesakitan".
Sebenarnya bukan kali ini Zidane kehilangan kontrol emosi. Ia bukan
pemain yang tak pernah mendapat kartu merah. Bahkan pada momen
pembaptisannya sebagai pahlawan, pada Piala Dunia 1998, ia diusir dari
lapangan di pertandingan grup melawan Arab Saudi — meski kemudian ia
menjadi bintang turnamen dan mengantarkan timnya menjadi juara dunia,
antara lain berkat dua gol yang dicetaknya di final melawan Brasil.
Namun Zidane melakukan kesalahannya itu dengan sangat tidak tepat, baik
buat diri sendiri maupun timnya. Karena telah menyatakan gantung sepatu
usai Piala Dunia ini, berarti partai malam ini adalah kali terakhir ia
turun sebagai pemain profesional. Alih-alih menyempurnakan karirnya
dengan indah — di turnamen paling bergengsi di babak final pula –
yang ia dapat malah petaka. Mungkin saja kalau dirinya tidak dikartu
merah Prancis bisa memenangi pertandingan karena tengah mengendalikan
permainan. Tapi apa boleh buat, duel ketat ini harus dituntaskan dengan
adu penalti, dan Prancis kalah beruntung.
Zidane pun menghilang dari acara penyerahan medali. Entah apakah di
ruang ganti ia menangis sejadi-jadinya, seperti Lilian Thuram yang
berurai airmata karena juga dipastikan mundur dari kancah internasional.
Ending dari cerita Zidane tidak semenjanjikan di menit-menit
awal pertandingan. Di menit keenam ia membuka skor buat Prancis lewat
tendangan penalti yang memperdaya kiper terbaik dunia saat ini,
Gianluigi Buffon.
Gol itu pula yang menjadikan Zidane sebagai pemain keempat dalam
sejarah Piala Dunia yang mampu mencetak total tiga gol di partai final
setelah Geoff Hurst (Inggris), Pele dan Vava (Brasil).
Insiden memalukan ini barangkali tidak membuat jatuh reputasi Zidane
sebagai manusia jenius yang pernah dilahirkan bumi untuk dunia
sepakbola. Sampai kapanpun ia akan dikenang sebagai salah satu pemain
terhebat yang pernah ada ai jagat raya ini. Hanya saja, oh Zizou, ending segala dongeng kebesaranmu tidaklah manis.
(a2s)
…. Poor Zidane… tapi gue ga pernah menganggap elo sebagai pecundang. Dan look at the bright sight,…. Cerita ini akan terus diingat, seperti cerita tangan emas Maradona yang kontroversial.
Dan demi mendukung "fair game" gue ucapkan SELAMAT BUAT ITALY SEBAGAI JUARA DUNIA FIFA WORLD CUP 2006. I can’t wait for Euro 2008 even without Zizou & Beckham.