Ayah dan Ibu adalah harta yang tak ternilai….
November 27, 2006 by eve-d-angela
SEDIKIT RENUNGAN BUAT KITA-KITA YANG MASIH MUDA ( YANG KELAK AKAN MENJADI
TUA PULA… )
Suatu hari seorang sahabat saya pergi ke rumah orang
jompo atau lebih terkenal dengan sebutan panti werdha bersama dengan
teman-temannya. Kebiasaan ini mereka lakukan untuk lebih banyak mengenal
bahwa akan lebih membahagiakan kalau kita bisa berbagi pada orang-orang
yang kesepian dalam hidupnya.
Ketika teman saya sedang berbicara
dengan beberapa ibu-ibu tua, tiba-tiba mata teman saya tertumpu pada
seorang opa tua yang duduk menyendiri sambil menatap kedepan dengan tatapan
kosong.
Lalu sang teman mencoba mendekati opa itu dan mencoba
mengajaknya berbicara.Perlahan tapi pasti sang opa akhirnya mau
mengobrol dengannya sampai akhirnya si opa menceritakan kisah
hidupnya.
Si opa memulai cerita tentang hidupnya sambil menghela napas
panjang. Sejak masa muda saya menghabiskan waktu saya untuk terus mencari
usaha yang baik untuk keluarga saya, khususnya untuk anak-anak yang sangat
saya cintai. Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya dimana kami bisa
tinggal dirumah yang sangat besar dengan segala fasilitas yang sangat
bagus.
Demikian pula dengan anak-anak saya, mereka semua berhasil sekolah
sampai keluar negeridengan iaya yang tidak pernah saya batasi. Akhirnya
mereka semua berhasil dalam sekolah juga dalam usahanya dan juga dalam
berkeluarga.
Tibalah dimana kami sebagai orangtua merasa sudah
saatnya pensiun dan menuai hasil panen kami. Tiba-tiba istri tercinta saya
yang selalu setia menemani saya dari sejak saya memulai kehidupan ini
meninggal dunia karena sakit yang sangat mendadak. Lalu sejak kematian
istri saya
tinggallah saya hanya dengan para pembantu kami karena anak-anak
kami semua tidak ada yang mau menemani saya karena mereka sudah mempunyai
rumah yang juga besar. Hidup saya rasanya hilang, tiada lagi orang yang mau
menemani saya setiap saat saya memerlukan nya.
Tidak sebulan sekali
anak-anak mau menjenguk saya ataupun memberi kabar melalui telepon. Lalu
tiba-tiba anak sulung saya datang dan mengatakan kalau dia akan menjual
rumah karena selain tidak effisien juga toh saya dapat ikut tinggal
dengannya. Dengan hati yang berbunga saya
menyetujuinya karena toh saya
juga tidak memerlukan rumah besar lagi tapi tanpa ada orang-orang yang saya
kasihi di dalamnya. Setelah itu saya ikut dengan anak saya yang
sulung.
Tapi apa yang saya dapatkan ? setiap hari mereka sibuk
sendiri-sendiri dan kalaupun mereka ada di rumah tak pernah sekalipun mereka
mau menyapa saya. Semua keperluan saya pembantu yang memberi. Untunglah
saya selalu hidup teratur dari muda maka meskipun sudah tua saya tidak
pernah sakit-sakitan.
Lalu saya tinggal dirumah anak saya yang lain.
Saya berharap kalau saya akan mendapatkan sukacita idalamnya, tapi rupanya
tidak. Yang lebih menyakitkan semua alat-alat untuk saya pakai mereka
ganti, mereka menyediakan semua peralatan dari kayu dengan alasan untuk
keselamatan saya tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya
memecahkan alat-alat mereka yang mahal-mahal itu. Setiap hari saya makan
dan minum dari alat-alat kayu atau plastik yang sama dengan yang mereka
sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka. Setiap hari saya makan dan
minum sambil mengucurkan airmata dan bertanya dimanakah hati nurani
mereka?
Akhirnya saya tinggal dengan anak saya yang terkecil, anak yang
dulu sangat saya kasihi melebihi yang lain karena dia dulu adalah seorang
anak yang sangat memberikan kesukacitaan pada kami semua. Tapi apa yang
saya dapatkan? Setelah beberapa lama saya tinggal disana akhirnya anak saya
dan istrinya mendatangi saya lalu mengatakan bahwa mereka akan mengirim
saya untuk tinggal di panti jompo dengan alasan supaya saya punya teman
untuk berkumpul dan juga mereka berjanji akan selalu mengunjungi
saya.
Sekarang sudah 2 tahun saya disini tapi tidak sekalipun dari
mereka yang datang untuk mengunjungi saya apalagi membawakan makanan
kesukaan saya. Hilanglah semua harapan saya tentang anak-anak yang saya
besarkan dengan segala kasih sayang dan kucuran keringat. Saya
bertanya-tanya mengapa kehidupan hari tua saya demikian menyedihkan padahal
saya bukanlah
orangtua yang menyusahkan, semua harta saya mereka ambil. Saya
hanya minta sedikit perhatian dari mereka tapi mereka sibuk dengan diri
sendiri.
Kadang saya menyesali diri mengapa saya bisa mendapatkan
anak-anak yang demikian buruk. Masih untung disini saya punya teman-teman
dan juga kunjungan dari sahabat - sahabat yang mengasihi saya tapi tetap
saya merindukan anak-anak saya.
Sejak itu sahabat saya selalu
menyempatkan diri untuk datang kesana dan berbicara dengan sang
opa.Lambat laun tapi pasti kesepian di mata sang opa berganti dengan
keceriaan apalagi kalau sekali-sekali teman saya membawa serta
anak-anaknya untuk berkunjung.
Sampai hatikah kita membiarkan para
orangtua kesepian dan menyesali hidupnya hanya karena semua kesibukan hidup
kita.
Bukankah suatu haripun kita akan sama dengan mereka, tua dan
kesepian ?
Ingatlah bahwa tanpa Ayah dan Ibu, kita tidak akan ada di
dunia dan menjadi seperti ini.
Jika kamu masih mempunyai orang tua,
bersyukurlah sebab banyak anak yatim-piatu yang merindukan kasih sayang
orang tua.