Menyambut kehadiran sang buah hati
March 26, 2007 by eve-d-angela
Menyambut Kehadiran Sang buah Hati .. 1
Copy from: http://muslimah.or.id
Penulis: Abu Ukasyah Darsan Andi
Di antara keutamaan dan kesempurnaan syariat islam ialah memuat
segala sesuatu. Termasuk di antaranya adalah penjelasan hukum berkaitan
dengan menanti si buah hati serta hal-hal yang berkaitan dengannya.
Dengan demikian para orang tua dapat melaksanakan kewajiban terhadap
buah hatinya secara jelas. Alangkah indahnya masyarakat yang mampu
melaksanakan syariat Alloh di muka bumi ini dimulai dari keluarganya.
Tentu saja untuk merealisasikan hal tersebut kita wajib mengikuti
tuntunan yang Alloh gariskan melalui Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam.
1. Mensyukuri Nikmat Alloh Atas Kehadiran Buah Hati.
Kedua orang tua ketika dianugerahi anak oleh Alloh, hendaklah
bersyukur kepada Alloh atas nikmat tak terkira dari-Nya tersebut.
Keadaan keluarga yang tidak Alloh karuniai dengan anak tentulah akan
terasa kurang sempurna dan sepi. Dalam Al Quran Alloh mengisahkan
tentang sepasang suami istri yang berdoa kepada Robbnya tatkala sang
istri sedang mengandung.
Alloh berfirman,
“Dialah yang menciptakan kalian dari satu manusia dan menjadikan
darinya istrinya, agar dia merasa tentram dengannya. Maka setelah dia
mengumpulinya, istrinya mengandung kandungan ringan, terus merasa
ringan beberapa waktu. Tatkala dia merasa berat, maka keduanya berdoa
kepada Robbnya, seraya berkata: ‘Sesungguhnya jika engkau memberi kami
anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang yang bersyukur.’
Tatkala Alloh memberi anak yang sempurna kepada keduanya, maka keduanya
menjadikan sekutu bagi Alloh terhadap anak yang telah dianugerahkan
kepada keduanya. Maha suci Alloh terhadap apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al A’raaf: 189-190)
Ayat tersebut menunjukkan hendaklah orang tua bersyukur kepada Alloh
sebagaimana keduanya berdoa kepadaNya takkala bayi tersebut masih dalam
kandungan.
2. Memberi Nama Yang Baik.
Orang tua hendaknya memberi nama yang baik untuk buah hatinya.
Rosululloh mengajari nama yang paling disukai oleh Alloh. Dalam sebuah
hadits Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya nama yang paling disukai Alloh adalah Abdullah dan Abdurrohman.”
(HR. Muslim, Abu Dawud). Sering kali terjadi kesalahan pada sebagian
orang tua, setelah anak diberi nama yang baik malah dipanggil dengan
nama panggilan yang jelek. Contohnya Abdullah dipanggil dul, atau orang tua memberi nama yang diharamkan bahkan termasuk kesyirikan kepada Alloh seperti Abdul Ka’bah, Abdul Rasul
dan sejenisnya. Kebiasaan yang seperti ini harus ditinggalkan karena
akan memberikan dampak yang tidak baik bagi orang tua maupun anaknya.
3. Aqiqah (Menyembelih Kambing).
Termasuk yang disyariatkan oleh Alloh ketika menyambut buah hati
adalah bersyukur kepada Alloh dengan Aqiqah. Aqiqah adalah menyembelih
kambing pada hari ke tujuh dihitung mulai dari hari kelahiran. Untuk
anak laki-laki dua ekor kambing sedangkan untuk anak perempuan satu
ekor kambing. Sebagaimana sabda Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Bayi laki-laki hendaklah diaqiqahi dua ekor kambing sedangkan bayi permpuan satu ekor kambing.” (Shohih. HR. Ahmad dan Tirmidzi). Dalam hadis lain, Samurah bin Jundub menuturkan bahwa Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap
bayi tergadai dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh kambing aqiqah
disembelih, rambut kepalanya dicukur serta diberi nama.” (Hasan Shohih. HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)
4. Mencukur Habis (baca: Menggundul) Rambut Bayi dan Bersedekah.
Disyariatkan pula pada hari ke tujuh dilakukan ibadah-ibadah yang lain seperti:
- Mencukur habis rambut kepala dengan tidak melakukan qoza, yaitu mencukur sebagian dan membiarkan sebagian yang lain. Ibnu Umar menceritakan bahwa Rosululloh melarang qoza. (HR. Bukhari). Perlu ada kehati-hatian saat mencukur rambut, karena kulit kepala bayi masih lunak.
- Bersedekah untuk orang miskin dengan senilai perak yang seberat rambut bayi. “Cukurlah rambut kepalanya (Al-Hasan) kemudian bersedekahlah dengan perak untuk orang-orang miskin seberat rambut tadi.”
(Hasan. HR. Ahmad). Perintah untuk mencukur habis rambut bayi ini
berlaku untuk anak laki-laki dan perempuan. Namun yang dirojihkan
Syaikh Al Utsaimin, cukur habis ini hanya berlaku untuk bayi laki-laki
(Lihat Syarh Mumti’ 7/540)
Menyambut Kehadiran Sang buah hati ..(2)
Penulis: Abu Isma’il Muhammad Abduh Tuasikal
Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Alloh, pada edisi yang lalu
telah dibahas mengenai beberapa hukum yang berkaitan dengan kelahiran
sang buah hati. Pada kali ini, kami akan menambah sedikit pembahasan
berkaitan dengan tuntunan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam yang lain dalam masalah tersebut dan beberapa kesalahan yang perlu diperhatikan.Mentahnik dan Mendo’akan Keberkahan Bagi Sang Bayi
Di antara petunjuk Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam menyambut sang buah hati adalah mentahnik
(mengunyahkan kurma hingga lembut kemudian memasukkannya ke mulut bayi)
dan mendo’akan keberkahan bagi sang bayi. Hal ini telah dikisahkan
dalam Shohih Bukhori dan Shohih Muslim, dimana Beliau mentahnik dan
mendoakan anak Asma’ binti Abu Bakr yang baru dilahirkan, yaitu Ibnu
Zubair. Bayi tersebut diletakkan di kaki Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Lalu Beliau mengunyah kurma dan menyuapkannya ke dalam mulut Ibnu
Zubair. Makanan yang pertama kali masuk ke dalam badan Ibnu Zubair
adalah ludah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu beliau mendo’akan keberkahan untuk Ibnu Zubair.
Khitan
Berkhitan adalah termasuk salah satu dari fitroh. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Lima hal termasuk fitroh: berkhitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhori dan Muslim). Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan dalam Majmu’ Fatawa
bahwa pendapat yang paling kuat berkenaan dengan hukum khitan adalah
khitan bagi laki-laki hukumnya wajib dan sunnah bagi perempuan.
Khitan ini lebih utama dilakukan ketika bayi berumur tujuh hari
sebagaimana yang dilakukan Nabi pada al-Hasan dan al-Husain (HR.
Thobroni dan Baihaqi). Di antara faedah khitan pada waktu kecil ini
yaitu aurat akan lebih terjaga, apalagi jika sudah mencapai usia dewasa.
Sunnahkah Mengusap Kepala Bayi Dengan Darah Hewan Aqiqoh ?
Sebagian orang ada yang mengusap kepala bayi dengan darah aqiqoh
(sembelihan kambing) padahal perbuatan ini telah dilarang dalam Islam
sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits. Abdulloh bin Buroidah
menceritakan dari ayahnya: “Pada masa jahiliyah dulu, apabila kami
dikaruniai seorang anak, kami menyembelih kambing dan mengusapkan
darahnya ke kepalanya (sang bayi). Tetapi tatkala Islam datang, kami
menyembelih kambing, mencukur (rambut) kepala (sang bayi) serta
mengusapnya (kepala sang bayi) dengan minyak wangi.” (HR. Abu Daud dan Al Hakim dalam Al Mustadrok.
Dishohihkan oleh Al Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahabi). Dalam hadits
ini nampak bahwa yang disyari’atkan adalah mengusap kepala bayi dengan
minyak wangi, bukan dengan darah aqiqoh.
Adzan di Telinga Bayi ???
Sengaja sub-judul di atas diberi tanda tanya, agar para pembaca yang
budiman memperhatikan hal ini baik-baik. Sebab, hampir tidak ada
penulis yang membahas masalah ini kecuali mengatakan bahwa mengadzani
bayi adalah sunnah.
Perlu ditegaskan, bahwa mengadzani telinga bayi tidak disyari’atkan
karena seluruh riwayat tersebut lemah dan tidak dapat terangkat ke
derajat hasan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh ahli hadits abad ini
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rohimahulloh dalam Silsilah Ahadits Dho’ifah no. 321.
Mewaspadai Nama-Nama Yang Dilarang
Diharamkan pemberian nama dengan:
- Kata “Abdu” (hamba) yang disandarkan kepada selain Alloh seperti Abdul Ka’bah (Hambanya Ka’bah) dan Abdul Husain (Hambanya Husain), Abdul Muhammad dan lain-lain.
- Nama yang tidaklah layak disandang oleh manusia seperti Malikul Mulk (Raja Diraja).
- Nama-nama yang mutlak hanya milik Alloh seperti Ar Rohman, Al Kholiq dan Al Ahad.
Ada pula nama-nama yang harus dijauhi seperti:
- Nama tokoh-tokoh barat yang jelas memusuhi dan memerangi Islam,
karena cepat atau lambat nama seperti ini akan menarik kecintaan para
pendengarnya. - Nama-nama yang dibenci oleh setiap orang dan tidak layak disandang oleh manusia, seperti Kalb (anjing) dan Hazn
(sedih). Nama-nama yang jelek seperti ini hendaklah diganti dengan
nama-nama yang bagus, sebagaimana terdapat dalam sebuah riwayat bahwa
Nabi mengubah nama seseorang Hazn menjadi Sahl.
Semoga kita menjadi hamba-Nya yang selalu menghidupkan ajaran Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam sampai akhir hayat kita. Amiin.
(Sebagian besar isi artikel ini disadur dari Majalah Al Furqon, Gresik)