Bapak Tua dalam Bis …
September 12, 2008 by eve-d-angela
Sosok berbadan besar itu tiba tiba memaksa supir bis kami untuk menghentikan kendaran. Keinginan sang supir untuk meminggirkan kendaraannya tersebut ditepis dengan kenekatannya untuk turun ditengah jalan. Dengan gerakan yang menggetarkan badan bis , dia turun dengan susah payahnya. Mataku tak lepas dari memandang setiap gerakannya hingga kaki nya berhasil menapak di jalan beraspal dan tangannya mengayun mencoba menghentikan kendaraan yang lalu lalang disekitarnya. Bunyi klakson dari kendaraan yang semula lancar hingga menjadi terhambat karena nya seolah tak didengarnya, dengan perlahan, langkah satu satu membawa tubuh besarnya ke trotoar dan dia mulai menarik nafas dan kembali menapak jalan itu untuk melanjutkan perjalananya.
Mataku masih tak beralih darinya, kernyitan dahiku yang semula keras dengan ketidaksukaanku dengan perilakunya selama ini perlahan melunak dan berganti dengan kemelut dihati dan kepalaku mempertanyakan siapa dia sesungguhnya.
Sudah hampir 3 tahun Bapak tua ini bergabung dengan bis jemputan karyawan kami. Dan selama ini belum aku temui kesan yang baik terhadapnya dari semua anggota bis karyawan terhadap dia. Tingkahnya selama ini memang sering membuat kami kesal , dengan kebiasaannya merubah channel TV untuk melihat siaran yang dia sukai tanpa peduli keinginan orang lain, kebiasannya untuk menelepon sepanjang perjalanan dengan suara yang sangat keras sehingga sangat mengganggu kami yang ingin memanfaatkan waktu perjalanan dengan memejamkan mata , atau kalaupun dia tidur makan lelapnya diiringi dengan dengkuran keras yang juga sangat mengganggu kami, kebiasannya yang suka masang radio tanpa headset sehingga kembali mengganggu kami, ataupun dengan kebiasaanya yang sering bersendawa dan berbagai macam tingkah yang sungguh sangat mengganggu kami.
Namun dengan dalih ketidak – enakan, maka tak ada satupun yang berani menegurnya dan hanya berusaha memaklumi segala tindakannya, sehingga ya dia nyaman dengan segala kelakuannya dan kamipun terus menggerundel dengan ketidakpahamannya.
Semula aku tidak begitu peduli dengan apapun tentangnya, ya kecuali akupun kesal dengan prilakunya dan hanya bisa beristighfar semoga aku bisa tidur dengan segala kebisingan yang dibuatnya. Namun seperti saat ini ada satu sisi yang membuatku berpikir tentangnya..he’s just an old man and he’s someone lovers.
Dengan usia yang sudah tidak muda lagi,
Dengan tubuh besarnya yang kadang membuatnya tersengal saat berjalan,
Dengan tas butut yang disampirkan di pundaknya
Dia mencoba tegar , dia mencoba bertahan , dia mencoba hidup
Dia adalah imam dari keluarganya
Dia adalah seorang yang seharus nya sudah bisa menikmati masa tuanya
Dia adalah seorang yang seharusnya sudah dirumah saja menemani istri tercintanya
Dia adalah seorang yang seharusnya bisa tertawa lepas melihat tingkah cucunya,
Namun kehendak berkata lain,
Dia adalah imam bagi keluarganya
Dia masih harus menafkahi anak istrinya
Dia masih harus membesarkan anak anaknya
Dia masih harus menjual dirinya agar dapat berharga
Dia masih harus bertanggung atas segalanya
Tubuh besarnya seharusnya sudah bisa bersender di kursi malas
Sambil merubah channel TV semaunya ditemani teh hangat dan pisang goreng istri tercinta
Lelahnya seharusnya sudah terobati dengan usapan lembut dari putra putri dan cucunya
Waktu senggangnya seharusnya bisa dimanfaatkan dengan mendengar berita di radio dengan volume semaunya tanpa mengganggu orang lain
Ya seharusnya dia sudah bisa bersantai….
Tubuh besar itu hilang dari pandangan mataku, berdesakan di keramaian orang yang menunggu bis TransJakarta menuju Kampung Melayu, setengah sadar aku bertanya pada supir Bis, ‘mau kemana dia pa, kok brenti di sini dan tidak melanjutkan perjalanan ? ‘. ‘Oh dia mau ngajar ,cari tambahan katanya, biasanya baru selesai sampai jam 10 malam’.
Tanpa terasa ujung mataku sudah mengambang butiran air.
Subhanallah…. Perjuangan seorang imam …
Disini kami membencinya dengan segala tingkah lakunya
Disini kami menggunjingnya dengan segala kekurangannya
Namun disana …
Ada beberapa wajah yang menunggu kepulangannya
Ada beberapa jiwa yang mendoakan tiap langkahnya
Ada beberapa nyawa yang butuh hasil keringatnya
Ada beberapa nafas yang mencintainya…..
Betapa buruknya kami ..
Hanya menilai dari kekurangan seseorang ..
No body perfect …
Hari itu tlah merubah cara ku memandang semuanya
Seorang Bapak..
Seorang pemimpin ..
Dengan perjuangannya
Dengan kekurangannya
Dia memiliki orang yang mencintainya
Dia memiliki cara untuk mencinta ….
Bapak Tua .. sampaikan salam ku untuk orang orang yang mencintaimu
Semoga ibadahmu mendapat berkah ALLAH
Maafkan aku, maafkan kami ..
Awesome site, I am going to read more of your posts soon.
All the info on your website was great, I like the nice clean layout of posts.
Super-puper site!
Super,its a very good